A year with DM

Sudah setahun(lebih sedikit) semenjak saya di judge menderita DM(Diabetes Militus). Tahun lalu tepatnya setelah semua rentetan acara semeninggalnya ayah saya, saya masuk rumah sakit(pertama kalinya). Diagnosa awalnya adalah saya terkena DBD(Demam Berdarah). Nah waktu di cek ya emang saya positif terkena DBD dan kejutan berikutnya adalah dokter yang menangani saya mengatakan saya positif terkena DM atau Kencing manis.

Pengalaman di Rumah sakit DBD-DM sampai makan steak di HCU

Semua keluarga panik apalagi saya hanya 2 bersaudara dan kedua orang tua saya sudah ga ada(TERLEBIH lagi baru selang 7 hari semenjak kepergian ayah saya). Total 7 hari saya harus tidur di rumah sakit karena terlebih karena  DM dan DBD itu merupakan kombinasi yang buruk sekali . SUMPRIT… SUPER BAD COMBINATION.

Saat itu gula darah saya terdeteksi 499(yes…. 499…salah satu sepupu saya jatuh koma 3 hari saat Gulanya menyentuh 510), dan karena Gula saya masih tinggi-tingginya, seperti penderita DM lainnya, saya sering sekali buang air kecil dan merasa haus terus.

Padahal untuk penderita DBD, dokter selalu menyarankan banyak minum, karena “katanya” obat dari DBD sendiri hanyalah AIR. Nyatanya setiap minum 1 liter keluar juga satu liter dan itu cepat sekali, jadi sepertinya tubuh ini tidak mau nyimpen air. Kejadian ini ditambah lagi beberpa infus yang diberikan ke saya menambahkan gula. Keadaan buruk ini MASIH ditambah lagi(masih ada lagi hehehe) dengan hal lain yaitu saya arus bolak-balik ke toilet karena selalu ingin buang air kecil, padahal penderita DBD itu ga boleh banyak gerak.

Pada hari pertama dan kedua dokter melakukan segala cara untuk menurunkan kadar gula saya, asupan obat DM ditambah suntik insulin… plus saya DILARANG makan apapun selain yang disediakan rumah sakit. Saya masih ingat di hari malam pertama saya ga bisa tidur karena kelaparan, di samping saya cuma ada Aqua 1.5 liter yang akhirnya saya habiskan karena kelaparan.

Setelah hari kedua … no luck. Dokter bingung kenapa gula ga turun juga masih bertahan di 300-an walau makanan saya sudah diturunkan drastis. Terlebih trombosit saya konstan turun, sampai di hari ketiga saya dikasih lampu kuning tidak boleh berdiri, jalan dan gerak seminimal mungkin karena trombosit saya sudah menyentuh 10ribu saja dan diperparah tingkat keseringan saya buang air kecil saya juga belum sembuh… malamnya trombosit saya turun ke 4000 dan pada hari itu juga paginya(jam 2 pagi) saya ditransfusi trombosit 3 kantong(per kantong sekitar 500-600rb kalo ga salah ingat, plus karena saya KTP DKI ada intensif dari pemprof sekitar 150rb atau berapa gitu).

Besoknya, kondisi trombosit emang naik, tapi tidak seperti yang diharapkan. Dokter takut ada pendarahan internal karena trombosit ga  naik tinggi(cuma jadi 8000 dari 4000 setelah di transfusi paginya). Malamnya, sekitar jam 7 malam, saya dipindahkan ke HCU(well 1 level di bawah ICU) semua elektroda dipasang disekujur tubuh saya. Kebetulan di RS tsb ICU dan HCU bersebelahan dan entah kenapa saya paham benar apa yang dikatakan almarhum ayah saya : “Pasien kalau udah masuk ICU kemungkinan keluar itu cuma 15-30%, kalau sampe dipasang respirator kemungkinan lewatnya 90%.”

OKAY, SAYA MENGERTI KENAPA BEGITU. okay, sebagai  salah satu(mungkin satu-satunya) pasien yang masih “sadar” dan masuk ke ruangan itu adalah satu beban mental yang luar biasa walau saya bukan ke ICU-nya. Paling ga jangan masuk kesana sebagai seorang dokter, tapi sebagai pasien. setiap berapa menit sekali suara alarm dari alat monitor berbunyi(memang ga seramai RS Dharmais waktu ibu saya masuk ICU), atau mendengar beberapa pasien mendapat penanganan dari dokter jaga. Malam yang begitu … mencekam mungkin… aura negatifnya sebagai seorang pasien terlalu overhelming.

Saya cuma bisa berharap besok saya bisa dpindahkan kembali ke ruangan normal atau hilang kesadaran sampai saya lewat saja daripada merasa stress di ruangan itu. Well sebagai obat stress, saya cuma bisa godain sodara saya yang tiba-tiba masuk ke ruangan saya, mereka marah tentunya hahahaha~ namanya juga orang stress 😀

Setelah malam itu lewat, saya merasa agak tenang dan saya makan enak dalam HCU, percaya atau ga, saya makan beef steak di dekat orang sekarat … ASLI ENAK BANGET hehehe (sorry dude, please don’t hate me ok? LOL) Akhirnya sore harinya saya dipindahkan kembali ke kamar semula. Setelah itu berangsur-angsur trombosit saya naik dan kembali ke normal. selang 2 hari berikutnya saya diperbolehkan pulang.

Seminggu di rumah sakit saya menghabiskan 24…. errr 25 juta kalau tidak salah. Hokinya ditanggung asuransi dan saya cuma perlu bayar sisanya yang hanya 1,5 juta(ga sebut merek daripada dibilang agen asuransi, plus bukan BPJS karena pengalaman buruk BPJS saya tidak memiliki BPJS sampai sekarang).

Basic Knowledge – Cerita HOROR Diabetes

Setelah keluar dari RS, saya masih diminta untuk menggunakan insulin suntik. Dokter meminta saya untuk melakukan kontrol 1 minggu setelah saya keluar rumah sakit untuk memantau kondisi gula saya. Apabila memungkinkan, saya akan menggunakan obat oral bukan suntik lagi.

Untuk melakukan check dan monitoring, adik saya membelikan alat check glukosa darah jadi saya bisa memonitor sendiri. Setiap hari saya selalu memantau perkembangan gula darah saya.

Seminggu berlalu, dokter akhirnya melepaskan suntikan saya, diganti obat tablet. Sayangnya sepertinya Pak Dokter ini terlalu PD jadi dosisnya terlalu besar. Bukannya menormalkan gula darah, malah menguras gula darah. Setelah konsultasi ulang dan melaporkan kalau malah gula saya habis 2 jam setelah minum obat dosisnya dikurangi jadi 3/4 tablet sehari. Cukup normal walau tetap menguras gula juga.

Sebagai orang yang SANGAT INGIN TAU, dan anak komputer pastinya hendak ingin tahu semua seluk  beluk penyakit DM ini dari internet. Hasilnya ada positifnya tapiiii… lebih banyak negatifnya,

Tentunya 80% dari artikel yang saya baca di Internet semua isinya begitu mengerikan… Amputasi, infeksi, stroke, jantung blablablablablabla …. secara ga langsung akan memberi tekanan mental. So saran saya buat yang “baru” tau kena DM, jangan terlalu dalam mencari-cari di internet tentang penyakit DM. Dijamin … suram hehehe.

Yang perlu Anda tahu memang benar, DM itu adalah penyakit “Paketan” kalo ga dijaga. DM sendiri ada 2 jenis. Type satu dan dua. Kalau ada yang bilang DM basah dan Kering, istilah itu TIDAK ADA, ITU HANYA SALAH KAPRAH ORANG AWAM(tanya dokter aja kalo ga percaya).

DM sendiri semua penyebabnya adalah Insulin, antara berkurang(DM type 2) atau tidak diproduksi sama sekali(Type 1). Insulin dibutuhkan untuk mengubah gula menjadi tenaga oleh sel-sel badan.

Pada DM type 1, terima nasib saja karena Pangkreas tidak memproduksi insulin sama sekali. Satu-satunya cara bertahan hidup cuma dari tranfusi insulin.

Pada DM type 2,  sebenarnya disebabkan oleh berkurangnya pasokan insulin dari pankreas yang berkurang. Kenapa?

  1. Anda makan terlalu banyak …
  2. Gula numpuk di darah … Pankreas produksi insulin …
  3. Sel berontak dan marah … “Woooii… cukup!! gw udah cukup terima GULA”
  4. Pangkreas pertama masih cuek, tapi lama-lama pankreas menanggapi “Okay, kalau begitu saya akan kurangi produksi Insulin ya?”
  5. Akibat produksi Insulin berkurang, akhirnya gula yang seharusnya dikonsumsi oleh sel menjadi energi semakin numpuk di darah.
  6. Lebih parahnya, biasa orangnya ga sadar kalo DM udah mulai… dan terus melakukan konsumsi berlebihan …. jadi gula akan semakin numpuk dan numpuk … (Lebih buruk lagi, orangnya ga suka gerak seperti saya hehehe)
  7. Terlalu banyak gula di badan? Dibuanglah Glukosa itu oleh ginjal… makanya disebut kencing manis.

Nah kalo sudah sampai level 7 ini,  Anda pasti akan sering buang air kecil(inilah kejadian yang saya alami waktu kena DBD di rumah sakit)…  dan karena asupan insulin kurang, Anda mungkin akan sering ngantuk. Lebih parah lagi kalau sudah level seperti saya, Walau saya makan banyak, berat badan saya turun dari 115 sampai 105? Aneh? Karena kata artikel yang saya baca Sel akan memakan otot untuk bertahan hidup(Canibalism???) jadi berat badan akan turun(heran kenapa ga makan lemak saja ya? 😀 ).

Nah sekarang bagian menakutkannya, kenapa DM ini disebut sebagai “Penyakit Paketan” adalah ketika Gula darah tinggi, darah akan mengental. Nah kalo sudah mengental kita bisa kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya:

  1. Jantung akan pompa lebih kuat => Darah Tinggi => Serangan Jantung
  2. Kental => pembekuan => stroke
  3. Kental => Pembuluh darah kapiler => tekanan kuat => Kapiler pecah(Kata adik saya di bagian ginjal banyak)
  4. Darah manis => Makanan sedap untuk Bakteri => luka ga bisa kering => infeksi => busuk => Amputasi

Ke-empat di atas adalah kesimpulan semua cerita horor yang saya baca di internet, saya singkatkan supaya kadar horornya berkurang. Tapi memang horor kalau ga tau 🙂

Intinya, Tahu apa yang Dimakan(Gula Kompleks dan Gula sederhana)

Untuk mencegah kompleksitas masalah yang bisa ditimbulkan oleh penyakit DM ini, saya sarankan Anda membeli alat check gula darah(Biasanya sekitar 600ribu, stripe testnya isi 50 biasanya sekitar 300rb). Dengan alat ini Anda bisa mengontrol selalu gula darah Anda plus mengirit ongkos Lab.

Yang Dokter selalu ingin pantau adalah Gula puasa dan juga 2 jam setelah makan. Biasanya saya ukur sebelum makan pagi, kemudian setelah 2 jam makan pagi(biasanya saya ga minum obat sampai test 2 jam setelah makan). Nah kalau ditanya berapa skala yang normal, saya ga jamin juga karena setiap dokter, lab bahkan artikel semuanya beda-beda. Tetapi saya pakai standard sendiri saja yang penting masih dalam skala normal:

  • < 100 pada gula puasa 12 jam
  • < 150 pada 2 jam setelah makan

Selain itu sempat juga saya konsultasi dengan dokter spesialis dan dia mengatakan gula 2 jam setelah makan itu seharusnya +/-30 dari gula sebelum puasa. Misal gula puasa Anda 90, paling ga 2 jam setelah makan gula darah Anda tidak boleh lebih dari 120. Jadi katanya kalau peningkatannya > 30 point tandanya makan Anda kebanyakan hahahaha~

Berikutnya, Anda harus tahu bahwa gula itu tidaklah sama. Ada gula kompleks dan juga gula sederhana. Keduanya akan tetap menjadi tenaga, hanya daya tahannya yang berbeda.

Pada gula Kompleks kadar gula darah Anda akan naik sedikit demi sedikit dan akan bertahan lebih lama sampai akhirnya turun sedikit demi sedikit. Berbeda dengan gula sederhana. gula sederhana akan sangat cepat di serap tubuh sehingga dalam sekejap kadar gula dalam darah bisa melambung tinggi tiba-tiba, tetapi turunnya juga tidak makan waktu lama.

Maka dari itu apabila Anda olahraga, tenaga akan cepat pulih apabila kita meminum minuman manis. simplenya ketika kita butuh tenaga instant, carilah asupan dengan gula sederhana.

Lalu membedakannya bagaimana? Simple saja sih, makanan yang mudah/mengandung air pasti gula sederhana(Gula pasir, buah penuh air dll) sedangkan gula kompleks banyak terkandung di makanan berat seperti nasi, mie dll.

Suntik vs Obat Oral

Saya ga tau mana yang lebih bagus, karena saya bukan dokter. tapi saya melihat ada 2 kubu nih yang saling bertentangan dengan pastinya argumen masing-masing yang ya jelasnya sih cukup masuk akal. Menurut Adik saya(yang dokter) masalah ini masih juga jadi perdebatan dan belum menemukan titik damai kedua kubu tersebut hehehe.

Berikut adalah argumen kedua kubu tersebut.

Obat Oral

Dokter dengan paham ini beranggapan, Pangkreas hanya sedikit malas untuk memproduksi insulin lebih, sehingga perlu diberi obat untuk “merangsang” produksi insulin  sampai ke batas normal(mungkin ya).

Kenapa Kubu ini kontra dengan Suntik Insulin? Argumen mereka kalau pangkreas udah males, kalo ga “diupaksa” dikit yang ada malah pangkreas akan semakin malas memproduksi Insulin, Takutnya malah sampe suatu titik, pangkreas malah “stop” memproduksi(karena terlalu malasnya) malah bahaya.

Suntik insulin

Dokter yang lebih prefer type ini beranggapan bahwa Pangkreas penderita DM itu udah capek, ngapain sih dipaksa lagi?

dengan menggunakan suntik insulin membuat pangkreas ga perlu bekerja keras untuk produksi Insulin seperti pada atype pertama. Toh kebanyakan minum obat akan memberi beban lebih pada ginjal.

Kehidupan saya sekarang…

Mau tahu yang paling berat? mengurangi makan hahahaha…. sampai sekarang makanan rutin saya ada takarannya 🙂

  • Makan pagi, 2/3 gelas nasi putih
  • Makan siang 1,5 gelas nasi putih
  • Makan malam 2/3 gelas nasi putih

Pada awal-awal perjuangan menormalkan gula saya, saya ga jajan, ngikutin semua menu diet. Hasilnya walah…. ga bisa dibayangin bro & sis 🙂

Biasa makan banyak, terus berubah jadi sedikit sekali penyakin maag yang ga pernah kambuh lebih dari 10 tahun ikutan kambuh. Awalnya saya ga kepikiran kalau itu maag. takutnya jantung atau apa gitu. Karena saya sering merasa dada kiri nyeri-nyeri, ga berenti sampai situ kadang rasa deg-degan kerasa dari tengah dada ke atas, kadang denyut sampai di leher. Paling buruk? jadi zombie… ga bisa mikir …. linglung  dan pusing.

Nah lagi-lagi saya cari tahu kenapa dari gejala-gejala itu… pastinya kalau nyari di Internet, Anda akan mendapatkan satu cerita Horor…. JANTUNG BERMASALAH…. Eh…. setelah cek ke dokter dan lab cuma maag dan GERD(kejadian asam lambung naik ke atas karena kosong). Akhirnya saya tenang juga karena setelah ikutin saran dokter… banyakin dikit cemilan penyakit ini sirna hahahaha….

lalu apakah porsi makan saya sekarang masih sama?

jawabannya, enggak hehehehe… pagi mungkin porsinya sama, tetapi untuk siang biasanya saya makan agak banyak(maklum kadang kita ga bisa pesen separuh porsi di restaurant, dan menyisakan makanan adalah hal tabu buat saya hehehe). Sedangkan malam biasa saya tambah lauk beli makanan dari luar. Hari libur? walah …. kadang ya saya kumpul makan bareng temen dan makan lepas… Softdrink? kadang saya masih minum… atau kayak starbuck tempat nongkrong gitu? ya saya masih minum juga koq. Indomie? PASTEEEEE!!! 😀 😀 😀

Nah sekarang bagaimana kondisi gula saya? Aman terkendali 🙂

Pagi biasanya saya antara 80-98, kemudian setelah makan paling 130 dan biasanya pulang kerja saya bisa mengalami hypoglimia(kekurangan gula) . Nah biasanya kalo udah Hypo, saya makan gila(pesen tambahan makanan via Go Food, atau nambah Indomie) yang penting 2-3 hari sekali saya cek.

Dan bukan karena gula saya terkontrol saya bebas dari komplikasi DM ya, saya tetep teratur melakukan cek lab. terutaa buat orang gemuk kayak saya selalu langganan semua yang berbau kolestelor(eh kolesterol) seperti HDL, LDL, dan trigliserida, kemudian asam urat terakhir saya harus cek Hba1C setiap 3 bulan sekali,

Sebagai catatan katanya Hba1C ini merupakan index kesehatan asupan gula tubuh selama 3 bulan terakhir. Berbeda dengan kadar gula darah yang bisa naik turun dengan cepat. HBA1C naik turunnya sangat lambat sehingga bisa menjadi acuan selama 3 bulan terakhir. Yah untungnya terakhir kali amsih normal(banget). saya belum cek lagi nih hahaha….

Akhirnya …

Walau sekarang makanan saya lepas dan berat badan saya menuju ke 100kg lagi(padahal pas masuk RS saya 105, keluar jadi 90 kg) saya berusaha untuk selalu mawas diri. Misal hari ini saya udah makan lepas, besoknya saya akan menahan diri supaya ga lepas(lagi). Dan ketika saya habis pesta pora, biasanya H+1 saya akan check sendiri gula darah saya sehingga saya bisa menakar makanan dan nafsu saya 🙂

Intinya buat yang baru kena ga usah takut dan stop mencari segala artikel tentang DM, tau obat herbal yang aneh-aneh. Yang ada horor atau malah disuruh makan aneh-aneh. Saya pernah disuruh minum air rendaman OKRA. Setelah saya cari tahu, ternyata OKRA hanya memiliki gula kompleks, ga ada kasiat yang benar-benar 100% membuat sembuh DM… kalo ada yang sembuh pasti paling 80% cuma sugesti 😛

Intinya nikmatin aja 🙂